Mengenal Properti Syariah Lebih Dalam

Akhir-akhir ini, istilah properti atau hunian Syariah sedang kerap dibicarakan. Properti Syariah biasanya ditujukan pada sebuah properti, baik itu berupa rumah atau tanah, yang dijual sesuai dengan aturan Islam. Hal yang paling menonjol pada hunian Syariah ini adalah tidak adanya bunga di dalam cicilannya. Oleh karena itu, masyarakat menjadi lebih tertarik untuk beralih ke hunian Syariah.

Pengertian Hunian Syariah

Lalu, sebenarnya apa pengertian sebenarnya dari properti atau hunian Syariah? Pemahaman ini harus benar-benar dimengerti oleh masyarakat umum agar tidak dimaknai dengan salah. Berikut ini adalah beberapa macam pengertian tentang hunian Syariah.

1. Pengertian secara bahasa

Dilihat dari segi bahasa, istilah ini terdiri dari dua kata, yakni hunian atau properti dan Syariah. Properti berasal dari Bahasa Inggris “property” yang artinya adalah kepemilikan seseorang atas sebuah bangunan atau tanah. Namun, dalam Bahasa Inggris, istilah property ini diartikan lebih sederhana, yaitu tanah milik.

Sementara itu, kata Syariah berasal dari Bahasa Arab “syarii’ah” yang berarti jalan menuju sumber air. Masyarakat di Arab juga kerap mengartikan Syariah sebagai aturan atau pedoman untuk melakukan sesuatu di jalan yang benar. Karena bahasa Arab identik dengan Islam, masyarakat Indonesia kerap mengartikan Syariah sebagai aturan di dalam Islam.

Dari kedua makna tersebut, bisa dikatakan bahwa properti atau hunian Syariah merupakan kepemilikan properti, baik itu tanah maupun bangunan, melalui cara atau transaksi sesuai dengan ajaran dan aturan dalam Islam.

2. Pengertian menurut Dewan Syariah MUI

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia atau DSN MUI memang bisa menjadi salah satu pedoman masyarakat untuk memandang berbagai hal dari sudut pandang Islam, salah satunya adalah tentang pengertian hunian Syariah ini.

Menurut DSN MUI, sebuah properti dapat disebut Syariah jika kepemilikan properti tersebut sudah memenuhi dua syarat, yakni qaanun yang berarti status properti jelas dan syaran yang berarti prinsip Islam di Indonesia sesuai fatwa DSN MUI.

Dari dua kriteria di atas, bisa dikatakan bahwa properti berbasis Syariah menurut DSN MUI harus sesuai dengan aturan Islam. Aturan tersebut antara lain tidak mengandung kezaliman seperti riba, memiliki waktu dan tempat transaksi yang jelas, barang sesuai dengan yang ditawarkan, properti bersifat resmi dan legal, serta tak ada transaksi online karena barang harus bisa dilihat secara langsung.

3. Pengertian secara istilah

Terakhir, secara istilah properti berbasis Syariah dikenal sebagai sebuah transaksi properti agar berpindah kepemilikannya. Properti dalam hal ini identik dengan cicilan, bukan secara tunai. Apabila properti dibeli dengan tunai, kegiatan ini lebih dikenal dengan istilah jual beli. Yang terpenting, properti berbasis Syariah harus tidak ada pihak yang dirugikan di dalamnya.

Itulah beberapa pengertian properti Syariah yang wajib diketahui. Dengan memahami pengertian tersebut, semoga tidak ada lagi salah paham mengenai istilah ini.

Seorang pekerja kantoran yang memiliki hobi blogging untuk mengurangi kapasitas memory yang disimpan didalam kepalanya.